My Subscriptions
- no subscription -
|
Blog Archive
[ Older
Newer ]
|
|
 |
|
Sunday, September 21, 2008
 |
saya tidak ingin bernyanyi lagi
sebab saya tak lagi merasa nyaman.
12:56 AM
-
6 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Thursday, August 14, 2008
 |
"Hapuskan Terminologi Indie" (wawancara dengan koran Pikiran Rakyat)
Ini adalah wawancara TIKA dengan surat kabar Pikiran Rakyat dari Bandung. Salah satu interview paling enak karena reporternya piawai sekali. Tak ada pertanyaan std seperti "inspirasinya dari mana?" dan "ingin kolaborasi dengan siapa?"
Monggo dibaca
Kartika Jahja Hapuskan Terminologi "Indie"!
SEJAK kemunculannya lewat album "Frozen Love Songs "tahun 2005, Kartika Jahja atau akrab disapa Tika menunjukkan arahnya sendiri sebagai penyanyi perempuan. Menawarkan album bernuansa noir yang sarat dengan lagu-lagu berlirik emosional, ia terbilang berbeda dengan mayoritas penyanyi perempuan lainnya yang lekat dengan pakem pop romantis yang terdengar biasa dan bisa ditemukan di mana-mana.
Tika mengawali kariernya di scene indie dengan menjadi penyanyi latar sejumlah band seperti Sore, The Brandals, dan LAIN, sampai akhirnya memberanikan diri menelurkan solo album. Ia mengisi kelangkaan female soloist di tengah scene indie yang dipenuhi band. Tak heran, lulusan LaSalle College dan Art Institute of Seattle yang menulis sendiri semua lirik lagunya ini, disebut-sebut sebagai diva-nya scene indie.
Minggu (6/7), Tika turut mengisi acara "A Lazy Sunday Afternoon" gelaran Jeune Magazine di Rumah Buku, Jln. Hegarmanah 52 Bandung. Dengan gaya bernyanyi penuh ekspresi, tanpa melupakan kualitas suara yang tetap terjaga baik, penampilan Tika malam itu menjadi pemanasan menjelang kemunculan album keduanya.
Tika, yang mengisi kesehariannya dengan menjadi translator, menjalani hobi crafting, dan baru-baru ini membuka kedai kopi, bukan hanya datang membawa kabar album baru. Simak obrolan lebih lanjut Kampus dengan perempuan kelahiran 19 Desember 1980, tentang album baru yang disebutnya sebagai album terakhir, rencana merilis novel, eksploitasi scene indie, hingga kampanye anti-TV bertajuk "Watch What You Watch" yang digagasnya sendiri.
Apa kabar terakhir Tika, dan mengapa jeda album berikutnya begitu lama?
Sekarang lagi bikin album baru karena memang mengerjakannya tidak ada deadline, tetapi akhirnya kita bikin target, paling tidak September ini rilis. Memang lama, saya juga jadi enggak enak karena banyak yang bertanya. Sejak keluar album tahun 2005, terus repackaged tahun 2006, belum keluar lagi. Cuma dipikir-pikir, kayaknya satu album lagi deh, terakhir deh... cukup lah.
Kenapa album terakhir?
Buat beberapa musisi, kayaknya bikin album seperti jadi kewajiban aja gitu. Bukan karena sesuatu yang dirasakan oleh musisi itu ingin dibagi ke orang lain, tetapi jadi karena kontrak labellah, apalah. Buat saya, enggak masalah juga sampai jeda tiga tahun. Mungkin sesuai mood lah (tertawa). Sempat juga ngobrol sama orang-orang, katanya, jangan terakhir dong. Ya saya enggak menutup kemungkinan akan ada lagi. Pintunya ditutup, tetapi enggak terkunci, dan saya bisa buka lagi kapan aja..
Prinsip apa yang kamu pegang dalam bermusik?
Prinsipnya, senang aja sih. Kalau itu sudah jadi beban, penuh birokrasi dan prinsip ekonomi, itu sudah bukan musik, tetapi menciptakan komoditas. Saya juga melewati fase itu. Pada saat saya berurusan dengan label, promo, kadang saya harus melakukan hal yang enggak saya pengen. Cuma itu tanggung jawab pada saat kontrak. Pada saat begitu, saya enggak merasa sebagai musisi, tetapi murni sebagai orang jualan produk. Namun pada saat manggung yang enak, atau bikin lagu, baru saya merasa menjadi musisi.
Saya sendiri bebas aja, orang mau bilang musik saya apa. Saya bikin lagu ibarat orang melukis di atas kanvas, bukan di atas bingkai. Jadi ngelukis aja dulu di kanvas, baru dicocokin bingkainya. Nanti bingkainya mau kita ganti, juga bisa kan.
Kamu menulis semua lirikmu, apa berminat menulis buku juga?
Saya punya novel, tapi belum dirilis. Tiga tahun bikin itu, awalnya untuk insomnia (tertawa), tidak ada rencana untuk diterbitkan. Tapi ternyata ada publisher yang berminat. Novelnya tentang adiksi. Bukan pada zat kimia, tapi adiksi manusia pada macam-macam, perhatian, cinta, kekuasaan, dsb.
"Female soloist" di tengah "scene indie" yang dipenuhi band. Ada kesulitan tertentu?
Iya, karena masih banyak diskriminasi di scene indie terhadap perempuan, baik itu band atau solo. Perempuan sering dianggap enggak punya pasar, dan bukan performer yang kuat. Beda dengan band yang frontman-nya lelaki. Masalahnya, cowok kalau ngelucu itu diketawain. Tetapi kalau cewek, kadang dibilang, apa sih, aneh deh. Kalau misalnya saya bukan penyanyi solo di scene indie, dan saya bisa jualan visual yang menghibur, misalnya bisa nari atau pakai kostum apa gitu lah, saya yakin saya punya selling point tertentu. Cuma saya sudah kehilangan selling point dengan menjadi perempuan, dan menjadi solois di scene yang tidak umum untuk solo. Tapi dua hal itu, tidak bikin jadi gimana-gimana. Masa iya saya harus ganti kelamin (tertawa).
Panggung ideal buat kamu seperti apa?
Panggung di mana antara performer dan penonton itu tidak ada gap. Penonton yang datang memang buat musik, bukan sekadar eksis. Antara 10 penonton yang apresiatif dan 10.000 penonton yang tak peduli siapa yang ada di panggung, tentunya saya lebih pilih yang pertama.
Yang sering saya alami adalah salah panggung. Taruhlah kayak panggung besar gitu. Saya sih suka kasihan sama penonton. Mereka jadi nonton saya kan, padahal mereka nungguin Glenn Fredly kan (tertawa). Menurut saya, kekurangan EO sering kali mencampurkan siapa pun yang lagi hype, dan sayangnya belum tentu itu kombinasi pas. Kalau di negara lain, EO biasanya sudah tahu harus mendatangkan siapa di panggung, mencocokkan dengan sasarannya. Misalnya, Suzanne Vega atau siapa gitu, pada saat manggung tidak akan disatukan dengan My Chemical Romance, misalnya, meski My Chemical Romance lagi hype dan bisa menarik massa. Tidak bisa di-combine semena-mena.
Katanya suka malas kalau harus menyebutkan "thanks to sponsorship" di panggung?
Ya selama wajar sih, saya akan lakukan (tertawa). Timbal baliklah, sponsor sudah bayar saya, maka saya memberikan apa yang mereka butuhkan. Cuma, ada keadaan panggung di mana baliho sponsornya sudah terlihat dari beberapa kilometer, belum spanduk di sepanjang jalan, ditambah diputar iklannya, masih juga disebutkan oleh MC, lalu masih juga performer-nya disuruh nyebutin? Itu keuntungan buat sponsor, tetapi kalau artisnya enggak nyebutin, menurut saya, kayaknya enggak begitu ngaruh. Kenapa enggak si performer nyebutin terima kasih sama kru, misalnya. Selama wajar, misalnya sponsor itu hanya punya satu banner, ya saya sebutin. Tapi kalau sudah segede-gede gaban, masa sih orang enggak tahu ini acara lo (tertawa).
Tapi perusahaan-perusahaan itu yang memungkinkan panggung "indie" ada..
Iya sih. Tapi percayakah kamu perusahaan rokok, minuman, dsb., itu mengeluarkan dana, benar-benar untuk kebaikan scene? Mereka melakukan semua itu kan karena indie dipandang area yang menjual. Mungkin jika tanpa sponsor, indie tidak akan sebesar sekarang. Tapi apa memang kita butuh scene ini menjadi besar? Apa lantas kita menjadi kaya? Tetap aja kalau manggung, honornya ditekan-tekan. Sebenarnya yang pertama harus dilakukan adalah hapus terminologi "indie". Belakangan jadi tumpang tindih, dan kalau begitu, jadi misahin dengan musik-musik major label kan .
Harusnya bagaimana?
Ya, kemudian industrinya jadi memilah, yang major itu mahal, dan indie itu murah. Bukan antisponsor, tapi kita bisa kok bikin acara kecil dan itu hidup. Small things can be better than big things. Ya scene-nya harus saling mendukung. Penonton yang datang bayar, jangan minta gratis atau guest list aja. Dengan saling dukung, terjadi perputaran ekonomi yang kuat antara penggemar dan pemusik, lalu jadi kondusif, dan itu bisa jadi sesuatu kok.
Saya nggak anti-major, malah saya respek sama banyak band major. Itu masalah naik tangga saja. Yang terjadi sekarang, tercipta anak tangga indie dan anak tangga major. Anak tangga indie dari bambu, sedangkan major dari beton, pada akhirnya tidak setimpal juga. Akhirnya indie selalu dinilai sebagai yang bisa dieksploitasi dan dibayar murah. Kenapa kita tersenyum saat dieksploitasi, bahkan ramai mendaftaruntuk dieksploitasi (tertawa).
Pendapatmu tentang perusahaan yang membuat kontes-kontes band "indie"?
Band teman saya banyak ikutan juga. Ya itu sih pilihan, dan saya menghargai kebebasan orang. Pendapat saya tentang event semacam itu, stop claiming this is your hard work. Jangan nipu orang, atau bersikap we're the hero, bahwa mereka melakukan itu untuk kebaikan band indie.
Apa pertimbangannya mengeluarkan single "Mayday" beberapa waktu lalu? Mengasosiasikan diri dengan gerakan buruh?
Sebenarnya yang pop-up di kepala saya adalah betapa banyak orang tidak merasa bahwa dirinya adalah buruh. Yang ingin diingatkan dari lagu itu, bahwa saya, kamu, dan mereka, adalah buruh. Antara orang yang bekerja di balik komputer, dan mereka yang di pabrik rokok, enggak beda. Tetap saja kita berada di bawah kekuasaan pemodal. Ingin ngajak orang juga, jangan terus-terusan takut sama bos. Tanpa kita, mereka enggak bisa apa-apa juga kok. Secara positif, bukan dengan tangan yang mengepal namun dengan lengan yang merangkul, ingin ngajak orang untuk tidak hidup dalam ketakutan dengan pekerjaan mereka.
Sekarang menggagas kampanye anti-TV juga?
Inisiatif memang dari saya, tetapi sekarang dibantu banyak teman. Rencananya mulai awal tahun depan, untuk seluruh Indonesia, tapi dimulai dari Jakarta dan Bandung dulu. Sekarang kan banyak slogan semacam "Kill your TV", dsb., sehingga buat mereka yang senang nonton TV, seakan dituding sebagai orang salah. Saya ingin cari jalan tengah. Pada pembuat acara TV-nya, bikinlah acara yang berkualitas. Secara sumber daya sebenarnya mereka mampu, namun mereka sering tak mau ambil risiko enggak laku. Di sisi lain, penontonnya juga harus lebih kritis terhadap apa yang ditonton. Saya sekarang jadi mulai nonton TV lagi untuk mantau perkembangan, tadinya enggak sama sekali. Intinya, media literasi. ***
dewi irma kampus_pr@yahoo.com
2:56 AM
-
8 Comments - 4 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Tuesday, February 12, 2008
 |
Bela Sungkawa untuk Bandung
Kami ingin menyampaikan empati dan prihatin kami setulusnya bagi seluruh pihak yang telah menjadi korban tragedi di Asia Afrika Culrural Centre tgl 9 Februari 08.
Dan dengan banyaknya berita yang saling berkontradiksi, kami tidak menghakimi, hanya ingin mendoakan yang terbaik bagi semua pihak.
Bela sungkawa kami yang terdalam kepada keluarga korban yang wafat.
Juga seluruh scene musik bandung yang tentunya akan terkena imbas peristiwa ini.
Semoga semua dapat segera pulih dan menjadi lebih baik.
7:40 PM
-
1 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Friday, February 08, 2008
 |
a little thank you note to Indonesian Progressive Society
Tonight was great. Thanks for having us Thanks for the appreciation.
10:42 AM
-
0 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Friday, January 25, 2008
 |
Sorry for the SHITTY performance
jakarta 25 Januari 2008
tidak ada yang bisa disalahkan kecuali kami sendiri atas buruknya performa kami malam ini. serius. bisa saja kami menyalahkan vokalis kami, mbak Tika. yang baru keluar rumah sakit. atau monitor yang awut-awutan. atau menyesali sesi doa kami yang diiringi cekikian. kami bisa menyalahkan apa saja yang kami mau. tapi saat sebuah band memberikan penampilan seburuk penampilan kami malam ini, kami percaya bahwa tidak semestinya band tersebut menyalahkan keadaan. sebuah band yang baik harus dapat bermain sebaik mungkin dalam keadaan apapun. dan malam ini kami gagal membuktikan bahwa kami adalah band yang baik.
setelah serangkaian panggung yang kami anggap cukup memuaskan dari segi permainan akhir2 ini... kami merasa malam ini kami telah menampar wajah sendiri. dan kami merasa bersalah kepada panitia South to South Film Festival yang berekspektasi untuk membuka event yang telah mereka persiapkan sepenuh hati ini dengan sebuah suguhan 'Musik Asyik' (begitu kata pamfletnya).... kepada teman-teman yang telah datang menonton kami... kepada L.O kami yang baik dan manis yang awalnya akan digebet oleh seorang personil kami namun batal karena ia terlalu malu untuk minta nomer telponnya seusai pertunjukan 'nightmare' kami.... dan kepada semua pihak yang 30 menit hidupnya telah kami buang sia-sia.
we have never felt this embarassed, guilty and unworthy since the first day we formed.
7:59 AM
-
4 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Tuesday, September 18, 2007
 |
interview with BARBED magazine, Adelaide Australia
Halo Tika, apa kabar? Sedang sibuk? Baik. Tidak sibuk. Bulan ramadhan kerjaan lebih santai
O ya ceritakan dong bulan Ramadhan di Jakarta seperti apa? HUT RI kemarin seperti apa? Essentially, tidak ada bedanya dengan bulan biasa. Hanya lebih lapar, lebih hiruk pikuk saat dini hari. Serba sungkan di siang hari. 17 Agustus juga sama. Banyak kembang api dan lomba tarik tambang, tapi tidak ada yang liberating kok.
Jadi semua itu menurut kamu cuma image? Tidak juga. Banyak orang memang meyakini bulan puasa itu bulan suci. Bulan cuci dosa. Good for them. Bagi yang tidak mempercayai itu, gimana yah…jadi serba sungkan. Karena konsep ini agak dipukulratakan rasanya. Dan bagi sebagian orang lagi, ini bulan yang baik untuk dagang. Jual album rohani, jual sms dakwah, dll.
Sikap kamu sendiri terhadap tradisi ini? Pro choice saja. To each their own. Itu kan pilihan masing-masing. Saat terasa dipaksakan sampai orang dibuat merasa ketakutan, itu kan udah nggak enak. Salah sedikit dianggap nggak menghormati kepercayaan mayoritas, itu yang membuat saya tidak nyaman.
Seperti beberapa usaha yang terpaksa tutup selama sebulan? Itu salah satunya. 1 bulan itu 1/12 tahun. That's a lot of days. Satu sektor ekonomi harus hibernasi selama sebulan. Kalo mereka tidak bermodal besar, bagaimana bisa survive? Bar misalnya tidak boleh jual minuman beralkohol, lalu mau jual susu? Padahal demand tetap ada, dan dari kalangan mayoritas ini juga yang men-demand. Hahaha…
Dalam hal ini kamu sendiri termasuk kaum mayoritas itu, atau yang minoritas? Saya anggota kaum mayoritas yang merasa nggak enak pada yang minoritas.
Budaya apalagi yang menurut kamu terasa dipaksakan di Indonesia? Sekarang ini yang ada di agenda bukan budaya sih, tapi hukum pernikahan. Itu bahasan kami belakangan ini. Karena bebannya untuk istri sangat tidak imbang dibanding suami. Kewajiban istri sangat banyak sedangkan haknya sangat sedikit. Bagian yang diambil dari kitab suci, kita nggak akan ganggu gugat, tapi hukum sipil kenapa harus begitu? Kemudian ada hal-hal juga yang sifatnya terlalu pribadi untuk diatur hukum.
Ada rencana melakukan sesuatu tentang hukum pernikahan ini? Dipelajari dulu. Dipahami betul. Baru kita naik ke bos-bos berstelan safari. Sekarang masih mentah banget, belum apa-apa.
Tapi kalau berhasil merevisi hukumnya, apakah menurut kamu ini akan mengubah kualitas hidup para istri tersebut? Jujur saja sih belum tentu. Pola pikir banyak istri yaitu posisi mereka dibawah suami. Tapi itu masalah masing-masing orang. Setidaknya saat hukum sudah memberi istri keleluasaan, mereka tidak dalam posisi bersalah ketika mereka mencoba mensetarakan diri dengan suami.
Pandangan kamu terhadap institusi pernikahan? Buat saya pernikahan itu sakral, rite of passage, tapi nggak harus dibikin mutlak. Just like everything else. For some people it's a piece of cake. For others, it's a struggle to keep it going.
Oke pembicaraan kita sangat melenceng dari profilmu sebagai seorang penyanyi, apa kabar Tika sang penyanyi? Hahaha. Tika yang itu sedang tidur siang
Tidak ada rencana membuat album baru? Ada. Sedang dikerjakan. Lambat sekali. Tapi sedang diusahakan.
Masih di jalur indie? Masih.
By choice? Iya dan tidak. Iya, karena memang tidak ingin membuat lagu-lagu setipe yang dianggap komersil oleh industri musik. Tidak, karena andai saja industri musiknya sedikit lebih pintar, saya sebenarnya tidak anti major. Jadi iya dan tidak.
Kamu tidak anti major? Tidak. Saya kan tidak cocok dengan cara berpikirnya saja. Kalau sama sistemnya sih nggak apa-apa.
Bukankah justru sistemnya yang sangat kapitalis? Hahaha… oh dear, darling, saya tidak pernah menyatakan diri sebagai seorang antikapitalis. Itu predikat yang terlalu berat buat saya. Saya tidak mengasosiasikan diri saya kepada satu paham apapun. Kalau saya disodori sebuah paham, sistem, manifesto, cabang agama, atau apapun lah, saya sikapi saja seperti konsumen pintar yang tidak mau termakan omongan salesman. Saya minta dijelaskan, lalu saya pelajari, kalau saya suka dengan platformnya, baru saya beli. Semakin saya suka dengan platformnya semakin saya dukung.
Nggak takut dibilang inkonsisten? Daripada saya munafik, lebih baik inkonsisten. Okelah saya pilih sistem indie, saya nggak beli starbucks, saya nggak nonton FOX news, tapi saya juga jual ringbacktone, saya pakai HP, saya beli susu Nestle. Kalau kas band udah menipis, saya terima juga gigs dari sponsor Unilever. Kemampuan saya untuk melawan ya saat ini cuma sebatas itu dulu. Coba kalau saya self proclaim diri saya sebagai seorang antikapitalis, kan saya jadi munafik.
Seperti apa scene indie Indonesia? Alive and well. Ibaratnya manusia, scene indie kita ini lagi seksi-seksinya. Semua orang pengen indie. Yang nggak pengen indie, pengen tau indie. Pengen megang-megang. Pengen dapet bagian.
Saya dengar ada perusahaan rokok raksasa yang bikin kontes band-band indie? Oh please… hahaha…
Benar ya? Iya, sudah tahun kedua kalau tidak salah. Sudah nggak usah kaget lah. Ini udah ketebak banget. Sooner or later pasti akan terjadi.
Kalau kamu ditawari ikutan mau? Kalau saya bilang nggak mau, bukan berarti saya nggak respek sama yang ikutan. Banyak band-band bagus yang ikutan. Beberapa pemenang tahun lalu, teman baik saya juga. Satu band ada yang sahabat-sahabat saya dari Surabaya. Fox, namanya. Musik adalah musik terlepas dari politik di belakangnya. Hargai pilihan orang dong.
By the way, apakah ada niat untuk membuat label sendiri? Ada juga. Setidaknya buat project sendiri dulu, biar punya kontrol penuh. Tapi saya sudah setahun ini kerja di dua sisi. Sebagai musisi sekaligus orang belakang layar. Pekerjaan sehari-hari saya adalah sebagai publicist yang mempromosikan band orang lain. Dari sini saya jadi tau bikin label ngga gampang. Butuh sistem yang benar, rekrut orang yang tepat, network yang luas. Kalo asal bikin, yang kasihan nanti artisnya.
Bagaimana caranya survive di dunia indie dengan keterbatasan label ini? Artisnya harus punya bargaining power. Tapi sayang, saya sendiri tidak bisa mengatasnamakan diri sendiri dalam hal ini. I am really not that big in this scene. Hahahaa… Gue penyanyi solo sedangkan scene ini isinya band semua. Gue nggak punya aksi panggung yang luar biasa. Gue nggak bisa menghibur penonton. Jadi gue pun nggak punya bargaining power. The best i can do is just be a control freak. Semua gue kerjain sendiri.
Terakhir, apa hal yang paling kamu pegang teguh sebagai seorang musisi? Dignity.
(Barbed adalah media alternatif minoritas yang didirikan oleh Anandita Bilson di Adelaide Australia. Untuk edisi pertama Barbed memilih TIKA untuk wawancara profil musik. Wawancara ini akan diedit ke dalam bahasa ingris untuk keperluan cetak.)
1:04 PM
-
1 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Saturday, August 18, 2007
 |
New Day Lyrics
TIKA was recently featured in Agrikulture, an electro rock n roll project by DJs Hogi, Adit and Anton. Album available in stores nationwide now. From Aquarius Musikindo.
As requested, here's the lyrics to the song...
New Day Music by: Agrikulture Melody and Lyrics: TIKA Dec06, delay, Jan07
Some say it's my fault Some say it's yours (yeah I think it is) You bitch but how the pain was hardcore But please baby just let it go, kid
Your whiny day is done Get off your ass Another day is gone.
Aaaa.. today's a different day Today's a new day
So I broke your heart Sorry to say, you aint the only one If you want a squeaky clean lady Round here you aint gettin lucky
Your whiny day is done Get off your ass Another day is gone.
Aaaa.. today's a different day Today's a new day
Some say it's my fault Some say it's yours (yeah I think it is) You bitch but how the pain was hardcore But please baby just let it go, kid
Without me you'd be scrubbing toilets Wearing hairnet and washing skillets If it wasnt for me You wouldnt be here.
Your whiny day is done Get off your ass Another day is gone.
Aaaa.. today's a different day Today's a new day
(untuk rio, semoga berkenan)
1:58 AM
-
2 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Monday, February 19, 2007
 |
TIKA, Sajama Cut, and Homicide Talks About Myspace on the JAKARTA POST-WEEKENDER
Making musical connections
Myspace music is making serious Internet geeks out of the nation's rock'n'rollers, rappers and divas and may even change the way we listen to music. Chris Holm is sucked into cyberspace to discover the attraction of the online music scene.
When a little-known New Zealand punk band made an unlikely, whistle-stop tour of Java earlier this year, there was one piece of technology that helped introduce the group to hundreds of new pogo-dancing, mohawked fans.
The venue was the Internet, and the instrument Myspace music. This year's latest discovery in the ever-mutating world of the Internet, Myspace has grown since its initial startup in 2003 to welcome its 100th million user in September this year. And the entertainment arm of the hugely popular social networking site is connecting bands and DJs the same way it is linking people, and is threatening to forever change the music industry in the process.
With the ability to blog and upload music, pictures and graphics, the site gives everyone the chance to create their own, personalized versions of themselves online, and then form gangs of like-minded mates to hang out with virtually, perhaps at some point even meeting in the flesh, or "meatspace", as one user puts it.
All these bells and whistles make the site particularly appealing in the tribal, fashion-conscious world of music, where artists and fans are rejecting the one-way traffic of Britney and bling-bing for something a little more interactive, and real. All this, despite Myspace being owned by someone decidedly "uncool" to most of the entertainment world, Fox News founder and media tycoon Rupert Murdoch.
"Never mind the money or the politics behind it;" says Marcel Thee, the front-man of popular Jakarta indie band Sajama Cut.
"(Myspace's) simplicity and accessibility make it like a modern version of all fundamental art movements - it allows communities to trade personal, independent thoughts and art. It represents almost the epitome of independent music … a kind of global underground," he says.
Marcel's band has been on Myspace for almost two years. While Sajama Cut's latest album is being distributed by major label Universal, the group also offer their songs on the site along with personalized cell phone ring-tones and T-shirts. They've had more than 13,000 views since their Myspace went up.
The singer says the main reason most groups use Myspace is to tell people about their gigs: "The promotional aspect of music," he says, "has certainly changed with the efficiency of online promotion, along with the decline of the 'posting up flyers all over town' mentality".
Because of its design, and the fact that it's free, the site puts fans and bands, however famous, on an equal footing, he says. This means John Doe's band has the same space as John Lennon's and everyone has a chance to get their 15 seconds of fame.
It also becomes a good place for musicians to discover new music. Artists can often download tracks for free, send each other messages, and generally do in cyberspace all the flattering, posing and bitching they do in real life.
But as trip-hop/jazz diva and Asian MTV artist Tika says, "It's not a community of just bands and musicians indulged in mutual masturbation."
"It also allows musicians and fans to interact, without having to know each other in person, which could be hard for some people who're shy and don't go out."
Tika, whose album Frozen Love Songs is released by local label Aksara, says the site comes in useful when trying out new songs on her audience: "It helps me to know people's opinion of my music, knowing who my market is, knowing what people think of my performances, all through their messages and comments," she says.
And just being online doesn't make the thousands of unknown bands on any good,
"It also opens doors for awful American idol/Indonesian idol wannabies and other terrible sorts of armchair musicians believing they are the next big thing, but shifting through bad records to find a goldmine was always part of the art of record hunting anyway." Marcel reckons.
But despite its thousands of unknowns, Myspace has also been credited for its fair share of successes. English group the Artic Monkeys, reportedly came to the attention of record company scouts in late 2004 after their site started receiving millions of hits. Their debut album sold millions of copies worldwide last year.
Then there are the acts that, while they may be too edgy for the mainstream record companies, are being writ large online. One of these "webstars" is a 20-year-old Californian rapper Jeffree Star. Flamboyantly gay, the cross-dressing former model, makeup artist and self-proclaimed "Queen of the Beautiful" has become hugely popular among American teenagers and has one of the most-added pages on MySpace -- his profile has been viewed and music listened to about 10 million times in the past year alone.
All this was done, Star says on his site, with a lot of online promotion, and the live touring to back it up.
While there are as yet no webstars of such magnitude in Indonesia -- unless you count unwilling ones like Golkar politician Yahya Zaini and dangdut singer Maria Eva -- bands here also know the value of networking, and are using Myspace to connect with other musicians not in their immediate social scene.
Apart from using it to help plan his band's tour of neighboring Malaysia, Marcel through the site has met a Japanese dance producer who wants to do a remix of one of the band's songs.
He's also been talking to record labels in the Tokyo and London about distributing the band's next album although "nothing has come of that yet".
The social reach of Myspace is also important to Bandung rapper Ucok, the man behind cutting-edge hip-hop group Homicide.
Passionate about political causes, his group's site has become a center for activists promoting land reform in Indonesia and fair trade; it also takes a stand against other issues like religious fundamentalism, the Palestinian conflict and Munir's murder.
Musically things are going well too, Ucok says. Being on Myspace has enabled him to contact hip-hop legends Public Enemy in the United States to ask them to add some raps to his songs.
"We're also recording new material for a split album with French Anarcho hip-hop group the Mary Read Collective, which will be released on vinyl in France by a hard core label, Fight For Your Mind Records," he says.
Tika's Myspace dealings, meanwhile, have not been so successful.
"I met a booking agent on Myspace who booked me for a show in Singapore and Vienna," she says.
"I didn't believe her at first until she actually got on a plane to Jakarta and met me. But both gigs got cancelled last minute. It was just my bad luck I guess."
While Myspace may be the site of the moment, in the internet world things can change quickly, with users able to easily migrate to a newer platform that does the job better. And while they are enjoying the technology, neither Ucok or Tika are overwhelmed by it.
In the end, they say, music is still about performing and recording, not surfing.
The site can even be dangerous because "it tends to get you hooked," Tika writes in a email from her Myspace web-page.
"Don't get carried away by the flattering comments you get from people and log in every 20 minutes."
"Because, 1. You don't know if those people are really sincere, and 2. You have a real life."
1:59 AM
-
1 Comments - 2 Kudos
- Add Comment
|
|
 |
Yang Kecewa Dengan Album Tika
Kami ingin berterima kasih kepada semua yang telah memberi komentar tentang album TIKA. Mulai dari review surat kabar dan majalah seperti Jakarta Post, Rolling Stone dan media lainnya, hingga review individual dari para blogger, dan semua yang telah memberi comment di myspace tentunya. Tapi review tak selamanya berisi puja-puji. Review dari mereka yang 'kecewa' pun tidak kurang kami hargai, karena berguna banget sebagai masukan penulisan lagu yang berikutnya
Seperti beberapa di bawah ini, contohnya:
http://ss80.blogs.ie/ Tika: Portishead Banget
Posted by Bu SBY
Kangen Portishead? Di tengah kekosongan itu, mungkin Frozen/Defrosted Love Songs karya Tika, artis lokal "pemberani" ini dimaksudkan sebagai obat penawar kangen. Mengapa disebut pemberani, itu karena di 12 lagu tentang cinta di album yang dirilis 2006 lalu ini Tika benar-benar hanya berpretensi menjadi Portishead yang tampaknya sangat dikaguminya.
Berhasil? Silakan menilainya sendiri. Tapi yang jelas, warna Portishead di tangan Tika menjadi lebih lembut-but. Tak ada lagi keliaran. Miskin pula ajakan wisata ke nada-nada aneh dan kaya seperti yang dilakukan Beth, Geoff Barrow, Adrian Utley dan Clive Dreamer yang menjadi ciri Portishead.
Dari nomor-nomor Tika itu, tak ada satu pun yang mencoba glayaran, misalnya, seperti Half Day Closing-nya Portishead di album Portishead. Di situ suara Beth dibiarkan jalan sendiri, sementara musiknya pun jalan sendiri pula. Yang begini-begini ini kiranya yang menjadikan Portishead tetap bisa disimak tanpa kita menjadi jatuh tertidur.
Tapi mungkin memang bukan Tika yang mesti dicatat, melainkan keberanian Aksara Record memproduksi album Tika ini. Sesuatu yang layak diacungi jempol, apalagi jika diikuti album-album artis-artis lokal lain yang tak sekadar ngotot banget untuk menjadi seperti idolanya.
http://www.ronaldwidha.com/JualanVersusSeni.aspx Album pertama, engga diakhiri sama kesan yang positif. Agak sedikit takut untuk masukin CD ini ke Player guwe. Nanti malah jadi makin kecewa?
Dari cover yang cukup menarik, guwe mendapat kesan ini bakalan album folk. Tapi ternyata guwe salah banget. Musiknya walau nyeleneh, jauh dari deskripsi kelusuhan. Malah bbrp lagu cenderung burgois ala musik cafe gaya barat.
Diawali dengan potongan suara dari sebuah film kuno, nuansa mistisnya berasa. Loopnya pun mulai, dan suaranya cukup beda. Guwe semakin sinikal kali ini. Kayak ampir ga mau mengakui adanya kelebihan di lagu ini. Vokalnya biasa aja, reverb terlalu kenceng, ngulang2 mulu..guwe ga berenti-berenti mengeluh. Tapi, tiap ada elemen baru diperkenalkan, koq guwe jadi ga bisa nyela lagi? Kening yang tadinya mengkerut penuh sinis, berubah jadi terangkat karena kekaguman. 'Koq berani ya di Indonesia bikin aransemen kayak gini?' tiap saat yang terlintas di pikiran guwe.
Karakter vokal Tika sangat cocok menyanyikan beberapa lagu yang ampir bisa dikategorikan musik santai ( red: chillout ) ini. Bener-bener mengingatkan guwe sama Zero7 dan Kompilasi Cafe Del Mar. Tapi uniknya tiap 'piece' punya elemen kejutan sendiri. Entah tiba-tiba berhenti secara dramatis, dan Tika pun berteriak-teriak. Atau di 'Gugur sepatu', seperti bercanda Tika menyanyikan sepotong frase yang tidak asing di kuping '...betapa hatiku takkan pilu'.
Pemilihan nada2 dan cengkoknya sangat menarik, tetapi vokal Tika harus diakui tidak memiliki karakter yang kuat, apalagi di lagu-lagu yang menuntut emosi. Untungnya, aransemen musiknya bisa mendukung penampilan Tika. Masih sih, ada ketidak setujuan sama bbrp keputusan seni akan penyajian aransemen album Tika. Di 'But I love you, though', sepanjang lagu guwe berharap andai teknik produksinya tidak se-menor itu. Apalagi di refrain 'Under Their Feet' yang agak menyerempet2 RnB, bagian 2 suara Tika bernyanyi unison dengan reverb yang tebal, seperti memohon untuk dibiarkan mentah apa adanya. Ketika disajikan secara kasar dan lusuh seperti di awal lagu 'My Late Ego', sempurna! Alur yang tadinya nyaris tanpa emosi, jadi lebih penuh dengan rasa.
Kalau disandingkan dengan album bjork-nya Indonesia, Astrid, album ini terdengar jelas lebih berani lepas dari pasar pendengar umum Indonesia. Ternyata ga kaget, namanya emang familiar. Orang-orang favorit guwe jg, yang lain dan ga bukan adalah anak-anak dari Lain Band. Ga sabar menanti album lain band berikutnya kalo kayak gini. Album ini malah terdengar lebih matang dari album perdana mereka sendiri.
1:40 AM
-
0 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|
|
Sunday, January 01, 2006
 |
Kabar Terbaru dari TIKA & the forgetfuls
Current mood: creative
Yup! Mulailah membiasakan diri dengan frase 'TIKA & the forgetfuls' karena Tante Tika kini bersatu kekuatan dengan empat pria berbakat Nobon (gitar), Okky (Drum), Susan (Upright-Bass) dan Lucky Annash (Piano).
Berawal dari frustasi TIKA dan Iman Fattah beberapa bulan silam, karena additional player yang jadwalnya sulit disinkronisasi dan juga Iman yang harus konsentrasi kepada recording Zeke&thePopo, mereka pun berinisiatif untuk mencari band pengiring tetap untuk panggung-panggung TIKA.
Lucky Annash, yang sudah beberapa kali mem-backup TIKA di beberapa panggung, merekrut Okky dan Susan dari 'Gods Must Be Crazy' dan 'In Memoriam'. Posisi gitar kemudian diisi Nobon, yang sebelumnya adalah stage crew handal untuk band-band seperti SORE, Ecoutez, Nidji, dan Seringai.
TIKA kemudian membaptis keempat pria ini menjadi 'the Forgetfuls' saat soundcheck, suatu siang, di Pekan Raya Jakarta. Nama ini terinspirasi oleh sebuah T-Shirt band bertuliskan 'Forgotten' yang dipakai Road Manager, Andri. Berhubung kelima personil band, terutama TIKA, adalah orang-orang dengan penyakit 'pelupa kronis', nama 'the Forgetfuls' jadi semakin terasa passs.....
Setelah vakum agak lama karena kesibukan duniawi, sejak bulan November 2006, TIKA& the Forgetfuls kembali mengulik lagu-lagu baru untuk materi album kedua. Dua diantaranya, 'Ol' Dirty Bastard' yang bercerita tentang cinta tabu antara gadis remaja dengan pria berumur, dan 'Uh Ah Lelah' yang menggambarkan suasana after-sex yang panas, sudah dibawakan Live di radio Prambors secara relay ke 8 kota. Sementara lagu lainnya, 'Nachos Muchos' , 'Lupa', 'Kerikil Nadi' dan 'Iris' (iris dalam bahasa indonesia loh... bukai airis nya gugudol)
Nuansa lagu-lagu baru untuk album kedua ini cukup berbeda dengan Frozen Love Songs. Dari segi lirik, TIKA membiarkan dirinya untuk mengalir secara ngaco dan bahkan sedikit explicit. Secara musikalisasi, influence masing-masing personil sangat terasa dalam penulisan lagu. Luky Annash dengan toriamosism-nya, Nobon yang sedikit Brit Pop, Susan dan Okky yang Progresif dan TIKA dengan notasi miring dan vokal swingy andalannya.
Kalau mau dengar lagu-lagu baru mereka, bocorannya akan ada di gigs-gigs mendatang. Hope to see you all there!!!
ps Lagu yang sedang in-the-making berlirik bahasa Ibrani!!! Yeeeaah.... that's how weird our singer is.
1:00 AM
-
0 Comments - 0 Kudos
- Add Comment
|
|
|